Bitcoin Tembus US$103.000, Analis Optimistis Harganya Naik Lagi
- Meski begitu, pergerakan harga Bitcoin kali ini tidak hanya didorong faktor teknikal. Stabilitas kebijakan moneter serta meredanya tensi geopolitik turut menjadi pendorong.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat tajam dan sukses menembus ambang psikologis US$103.000 untuk pertama kalinya sejak Februari 2025. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang positif, meskipun sempat diwarnai aksi ambil untung yang menekan harga secara temporer.
Per Jumat, 9 Mei 2025, BTC tercatat naik 4,2% ke level US$103.012. Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, lonjakan harga ini dipicu oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga serta pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan dagang potensial dengan Inggris.
“Kondisi global yang relatif stabil, ditambah prospek kesepakatan dagang, menciptakan optimisme baru di pasar aset digital. Ini menjadi katalis penting yang mendorong harga BTC menembus level resistance,” ujar Fyqieh dalam riset tertulisnya pada Jumat, 9 Mei 2025.
- Berapa Gaji Paus Leo XIV per Bulan?
- Sedot Investasi Rp2,8 T, Ini Fakta PLTU Labuhan Angin yang Meledak
- Bitcoin Nyaris Sentuh US$100.000, Wall Street Hijau—Efek Domino dari The Fed?
Lonjakan harga ini juga disertai tekanan beli yang kuat. Fyqieh merujuk data dari CoinGlass yang mencatat lebih dari US$492 juta posisi short dilikuidasi hanya dalam 24 jam terakhir. Menurutnya, ini menunjukkan banyak investor yang salah posisi dan terpaksa keluar di tengah reli harga.
Meski begitu, pergerakan harga Bitcoin kali ini tidak hanya didorong faktor teknikal. Stabilitas kebijakan moneter serta meredanya tensi geopolitik turut menjadi pendorong. “Jika arus masuk ETF Bitcoin spot tetap positif, BTC punya peluang kuat menguji US$105.000 hingga US$108.000 dalam waktu dekat,” jelas Fyqieh.
Optimisme ini juga didukung indikator lain seperti arus masuk ke ETF dan penurunan saldo BTC di bursa, yang mencerminkan akumulasi oleh investor jangka panjang. Namun, Fyqieh mengingatkan bahwa Relative Strength Index (RSI) telah melewati angka 70, yang menandakan potensi koreksi dalam jangka pendek.
Meski begitu, sinyal pasar secara umum masih mengarah ke tren positif. “RSI di atas 70 biasanya mencerminkan kondisi overbought. Artinya, ada kemungkinan harga terkoreksi sebelum naik lagi,” tuturnya.
Selain itu, Indeks Fear & Greed yang kini berada di angka 70 menunjukkan pasar berada dalam fase optimistis. Di saat yang sama, dominasi Bitcoin terhadap altcoin masih cukup kuat, terlihat dari Indeks Musim Altcoin yang hanya berada di level 36 dari 100.
“Saat ini, skenario bullish mengarah ke target resistensi selanjutnya di US$105.000. Jika kesepakatan dagang AS–Inggris terealisasi, investor meyakini bahwa jalur menuju US$120.000 akan semakin terbuka,” ujar Fyqieh.
Ia menambahkan bahwa sejumlah rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat akan sangat menentukan arah pergerakan harga selanjutnya. Anggaran pemerintah yang dirilis pada 12 Mei, serta Indeks Harga Konsumen (CPI) pada 13 Mei, akan menjadi katalis penting.
“Kalau data yang keluar menguatkan narasi stabilitas fiskal dan inflasi yang terkendali, maka reli BTC bisa berlanjut lebih jauh,” jelasnya.
Selain itu, wacana legislasi baru di AS juga berpotensi menjadi faktor pendorong dalam jangka menengah. Fyqieh menyoroti usulan Undang-Undang Bitcoin oleh Senator Cynthia Lummis, yang mengusulkan agar pemerintah AS mengakumulasi satu juta BTC dalam lima tahun ke depan.
“Jika benar-benar disahkan, kebijakan ini akan memperketat pasokan dan dapat mempercepat laju kenaikan harga. Permintaan institusional dan negara akan menciptakan tekanan beli yang sangat besar,” tutup Fyqieh.

Amirudin Zuhri
Editor
